wptemplates.org
RSS Feed

Tuesday, July 21, 2009

BANGKIT DARI KETERPURUKAN

Perempuan manapun pasti menginginkan sebuah kesempurnaan saat dewasa dan tiba waktunya untuk memiliki seorang anak. Tapi bagaimana jika kehamilan terjadi akibat sebuah perkosaan? “Tadinya saya ingin bunuh diri, tapi kemudian saya merasa janin inilah teman saya dalam kesendirian setelah peristiwa itu,” ujar Yusti, salah satu korban perkosaan yang hadir di Kick Andy kali ini.

Yusti, bukan nama sebenarnya, adalah korban perkosaan 2,5 tahun lalu, saat ia mendapat tugas kantor di Pulau Bintan. “Dari kantor, saya mendapat fasilitas menginap di sebuah resort dan di situlah perkosaan itu terjadi,” ujar perempuan yang telah dirusak kehormatannya secara paksa oleh lima orang pria tak dikenalnya itu.

Seperti pada banyak kasus perkosaan, Yusti tak berhasil meperkarakan kasus ini. Petugas keamanan resort tersebut menyatakan kesulitan melaporkan, karena ketiadaan saksi. Dalam kondisi shock dan kondisi badan yang sakit, Yusti akhirnya menerima tawaran pihak managemen resort tersebut untuk merawatnya, dengan syarat tidak membeberkan kejadian ini pada pihak luar. “Waktu itu yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa sehat kembali.”

Yusti mengalami trauma berat. Bayangkan, ia sempa mengalami ketakutan hebat saat melihat rumput atau kegelapan. Cerita tidak sampai disini, karena kemudian Yusti harus menerima kenyataan hamil akibat perkosaan ini. Meski sempat beberapa kali ingin bunuh diri, tapi akhirnya ia berpasra, lalu memilih membesarkan janin dan melahirkan bayi itu. Empat bulan setelah kejadian itu, ia baru memiliki keberanian untuk member tahu keluarganya.

Sementara itu, Maya Safira membeberkan pengalaman masa kecilnya yang kelam. Bayangkan, semasa duduk di bangku SD, ia harus menerima pelecehan seksual yang dilakukan gurunya sendiri, setiap hari, selama setahun. “Ini terjadi saat saya bersekolah SD kelas 5 sampai kelas 6, di KBRI di India,” katanya. Mayapun mengalami trauma yang berat semasa SMP, kehidupannya menjadi sangat labil.

Tak kalah buruknya, apa yang dialami Amelia. Dimasa remajanya, Amelia mengalami pemerkosaan sampai dua kali. Yang pertama dilakukan oleh kerabatnya, yang kedua kali oleh teman ibunya. Amelia dan ibunya pernah berusaha memperkarakan kasus perkosaan ini, namun karena soal ketiadaan saksi yang menjadikan kasus ini buntu.

Kehidupan Amelia pun goyah. Kebahagiaan seakan menjauh dari hidupnya. Saat dewasa, ia kemudian terseret dalam hubungan terlarang. Ia hidup bersama seorang pria yang sudah menikah. “kala itu, saya berpikir siapa yang mau sama saya yang sudah tidak virgin ini,” ujarnya. Dari hubungan ini kemudian Amelia mendapatkan seorang anak.

Urusan anak dalam hubungan luar nikah, sering menjadi bagian yang ironis. Karena anak-anak yang tak berdosa itu harus mendapat cap sebagai anak haram. Tak sebatas hanya ungkapan orang sekitar, tapi sebuah kalimat “anak di luar nikah” akan tertera dan menjadi cap paten di akta kelahiran mereka. Maka anak Amelia yang bernama Francisco itu pun terpaksa memiliki akte kelahiran seperti itu.

Tak hanya Francisco yang mengalaminya, seorang gadis bernama Cempaka juga memiliki akte dengan title “anak di luar nikah”. Cempaka adalah putri dari Endang TR, yang memiliki pengalaman kelam dengan mantan pacarnya.

Bagi Cempaka, yang kini sudah dewasa atau Fransisco yang remaja, memang tak ada pilihan lain selain menerima kenyataan bahwa mereka lahir di luar pernikahan. “Setiap orang punya masa lalu. Luka batin pasti, tapi kita harus menyembuhkannya,” ujar Fransisco tegas.

Sementara itu Yusti yang korban perkosaan tadi, memilih untuk membiarkan anaknya diadopsi oleh sang kakak. “Saya tak tega kalau dia punya akte seperti itu,” ujar perempuan yang telah menjalani berbagai terapi psikis ini.

Inilah kisah-kisah ketegaran para perempuan pasca masa lalunya yang kelam. Bagaimana mereka bangkit, meski harus menanggung beban yang berat. Begitu pula dengan anak-anak mereka yang terpaksa lahir dari kondisi seperti itu. Selain para nara sumber tadi, hadir pula psikolog Ieda Poernomo Sigit dan aktivis perempuan Nursyahbani Katjasungkana.

Tentu saja, topik ini diangkat bukan untuk menghakimi, tapi untuk membagi kisah dimana kita masing-masing bisa bercermin dan mengambil pelajaran dari pengalaman para nara sumber. Selamat menyaksikan.

0 komentar:

Loading...